Postingan

Pelatihan Observasi Bawah Air (OBA): Upaya untuk Melestarikan Ekosistem Perairan Bali

Pelatihan Observasi Bawah Air (OBA): Upaya untuk Melestarikan Ekosistem Perairan Bali Oleh: Kader Pelestari Budaya Kabupaten Badung             Indonesia kurang lebih 75% terdiri dari daerah pesisir atau lautan. Hal tersebut menunjukan bahwa sebagaian besar dari wilayah Indonesia terdiri dari ekosistem laut. Salah satu pulau dengan obyek pariwisata terbesar adalah bali. Bali sebagaian besar memanfaatkan keindahan lautannya sebagai obyek pariwisata. Dengan demikian, sangat diperlukan perlindungan ataupun pelestarian terhadap ekosistem laut tersebut. Salah satu ekosistem laut yang paling penting adalah terumbu karang. Sebaran terumbu karang di Bali melingkupi daerah pantai sepanjang 331,5 km dengan luas 7.592 ha. Sebaran ini meliputi Kabupaten Buleleng, Karangasem, Klungkung, Badung, Jembrana, dan Kota Denpasar. Terumbu karang bisa dikatakan sebagai hutan tropis ekosistem laut. Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang han...

Film Dokumenter sebagai Media Informasi Tradisi Mabuug-buugan Desa Adat Kedonganan

Gambar
Film Dokumenter sebagai Media Informasi Tradisi Mabuug-buugan Desa Adat Kedonganan Oleh: Kader Pelestari Budaya Kabupaten Badung             Desa adat Kedonganan merupakan salah satu desa adat yang berada di kecamatan Kuta, kabupaten Badung. Desa Kedonganan memiliki luas wilayah sekitar 1 km 2 , dengan kepadatan penuduk pada tahun 2009 mencapai 5.097 jiwa dengan 1.072 kepala keluarga. Perkembangan desa adat Kedonganan yang begitu pesat di sektor pariwisata menyebabkan desa ini juga menjadi sasaran para pendatang. Jika dijumlahkan dengan pendatang teregristrasi, total penduduk Kedonganan mencapai 5.639 jiwa atau 1.257 kepala keluarga. Kedonganan adalah sebuah desa pesisir di mana batas barat dan timur desa diapit oleh laut Bali. Sektor perikanan dan kelautan berkembang dengan baik terutama di laut bagian barat . Desa Adat Kedonganan juga memiliki tempat pelelangan ikan (TPI) yang menampung ikan-ikan hasil tangkapan para ne...

MAKNA FILOSOFIS DAN TEOLOGIS PADA UPAKARA DAKSINA SERTA UPARENGGA KLANGSAH/KELABANG PADA UPACARA AGAMA HINDU DI BALI

Gambar
OLEH I GEDE ARUM GUNAWAN KADER PELESTARI BUDAYA PROVINSI BALI Beragama di zaman modern seperti saat ini, tidak dapat disamakan dengan kehidupan beragama pada masa silam. Kehidupan masyarakat masa lalu yang secara profesi, intensitas waktu dan aktivitas masih sangat terbatas, sangat berbeda dengan fenomena masyarakat masa kini dengan padatnya rutinitas, aktivitas, dan semakin kompleksnya kebutuhan hidup masyarakatnya. Adanya perbedaan kondisi masyarakat tersebut merupakan salah satu sebab adanya indikasi perubahan maupun pergeseran pada praktek agama, khususnya pada tataran ritual. Tingkat pemahaman, cara berpikir, dan latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat masa kini, juga menjadi faktor bergesernya praktek keagamaan tersebut. Pergeseran agama yang dimaksudkan pada tulisan ini, adalah khusus pada pelaksanaan ritual masayarakat Hindu di Bali, yang kental dengan penggunaan upakara dan uparengga sebagai sarana pokok dalam ritual pemujaan Tuhan Yang Maha Esa....

Pengetahuan Mengenai Busana Muspa dan Bersembahyangan

Gambar
Oleh : Kader Pelestari Budaya Provinsi Bali Angkatan XI Kabupaten Badung Secara Makro sejarah perkembangan Tata busana di mulai pada akhir periode zaman glacial dari zaman pleistosen (25.000 tahun yang lalu) ditemukan bahwa umat manusia sudah memiliki skill dan keterampilan membuat anting-anting dari batu dan ukiran gading. Sisa dari hasil produk itu dapat diketemukan sebagai temuan arkeologis sampai pada era zaman glacial ini. Menurut peneliti pada zaman itu manusia tidak membutuhkan busana dari dinginnya es dari bagian utara dan tengah benua eropa. Walaupun demikian, iklin dan cuaca dingin di bagian utara dan tengah benua eropa tidah dapat di tahan oleh umat manusia lalu mereka pindah bagian selatan eropa yang bersuhu panas. Pengalaman menghadapi cuaca yang sangat dingin mereka memiliki banyak keahlian atau skill untuk bertahan hidup di daerah yang lebih stabil yaitu di daerah selatan benua eropa. Pada kehidupan baru mereka di daerah selatan benua Eropa banyak ditemukan b...

Sejarah Puputan Badung

Gambar
Oleh : Kader Pelestari Budaya Provinsi Bali Angkatan XI Kabupaten Badung Sebuah perahu dagang (skunar) terdampar di pantai timur Kerajaan Badung pada jam 06.00 tanggal 27 Mei 1904. Perahu dagang itu bernama Sri Komala berbendera Belanda yang berlayar dari Banjarmasin mengangkut barang dagangan milik pedagang Cina bernama Kwee Tek Tjiang.             Oleh karena kandas dan perahu pecah, maka para penumpang Sri Komala menurunkan barang yang masih bisa diselamatkan antara lain peti kayu, peti seng dan koper kulit. Nakhoda meminta bantuan kepada syahbandar di Sanur untuk menjaga keamanan barang-barang yang diturunkan. Atas permintaan pemilik barang dan atas saran Sik Bo, seorang warga Cina di Sanur, peristiwa kandasnya perahu dilaporkan kepada Ida Bagus Ngurah, penguasa daerah Sanur dengan tujuan untuk ikut mengamankan barang-barang yang telah diturunkan itu.            ...